Langsung ke konten utama

Akan Baik-Baik Saja

Dia melukis alam dengan tangannya, yang seketika itu menari-nari saat matanya terpejam. Warna dan visi hidupnya seakan-akan menyatu dalam jumlah yang tak terhingga. Kain putih kesukaannya menjelma menjadi dunia dalam imajinasinya. Tak seorang pun yang dapat mengganggunya ditengah tarian tangannya itu, termasuk aku yang mencintainya.

Aku yang masih canggung menatap matanya, tak diberinya kesempatan untuk menatapnya jauh lebih lekat dari sepasang burung dara. Ia menatapku dengan cermat ketika aku berbicara di depannya. Tak ada kesempatan lebih untuk menatapnya lebih lama saat peraduan kata saling bertukar pemberian. Aku selalu memenangi peraduan kata itu tapi tidak dengan tatapan mata. Bagiku tatapannya adalah sebelah pisau yang siap menebas sesuatu yang diburunya.

Bagaimana mungkin, lelaki sepertiku dapat menuntut pandangannya supaya tak tajam menebas tatapanku yang tak sering itu. Kadang sepersekian detik waktuku mengaguminya, melalui tatapan bola mataku. sekalipun sesal datang dikemudian waktu, ketika kebersamaan kita telah sirna ditelan hal yang sama pula. 

Tangga menuju gedung lantai dua, menjadi saksi bisu pertemuan sepasang anak manusia yang sedang belajar mengenal. Kita tak lama bersua, tetapi telah cukup waktu mengarsipi semuanya, menjadi perbincangan dikemudian hari. Suara gemetarku menyapanya dengan kepercayaan diri sambil lalu berharap semoga ia tak menyadarinya. Namun ia benar-benar tak menyadarinya, aku semakin menegangkan otot pita suaraku untuk tetap terus berbicara sampai pertemuan kita harus diselesaikan sebab dosen mata kuliah pendidikan telah masuk ke dalalm ruang kelasnya untuk memulai pembelajaran.

Bagaimana pun akhirnya, ia telah memberiku sedikit  ruang untuk mengagumi. Tak ada yang salah dengan pertemuan tersebut. Ia yang masih canggung sedang aku yang masih tak percaya diri mencoba mengelaborasi keadaan. Aku percaya semuanya akan baik-baik saja di kemudian hari.

Komentar