Postingan

Akan Baik-Baik Saja

Dia melukis alam dengan tangannya, yang seketika itu menari-nari saat matanya terpejam. Warna dan visi hidupnya seakan-akan menyatu dalam jumlah yang tak terhingga. Kain putih kesukaannya menjelma menjadi dunia dalam imajinasinya. Tak seorang pun yang dapat mengganggunya ditengah tarian tangannya itu, termasuk aku yang mencintainya. Aku yang masih canggung menatap matanya, tak diberinya kesempatan untuk menatapnya jauh lebih lekat dari sepasang burung dara. Ia menatapku dengan cermat ketika aku berbicara di depannya. Tak ada kesempatan lebih untuk menatapnya lebih lama saat peraduan kata saling bertukar pemberian. Aku selalu memenangi peraduan kata itu tapi tidak dengan tatapan mata. Bagiku tatapannya adalah sebelah pisau yang siap menebas sesuatu yang diburunya. Bagaimana mungkin, lelaki sepertiku dapat menuntut pandangannya supaya tak tajam menebas tatapanku yang tak sering itu. Kadang sepersekian detik waktuku mengaguminya, melalui tatapan bola mataku. sekalipun sesal dat...
Postingan terbaru